Sahabat....satu kata penuh dengan makna. Ya jelas, sahabat adalah orang yang menurutku sangat dapat kita percayai, tempat dimana berbagi cerita, suka-ria, keluh kesah. Semuanya di lewati dengan bersama-sama, tak peduli jika ada yang tumbang ataupun jatuh ke lubang yang salah, sahabat pasti akan selalu ada dan menerima kita apa adanya. Jika tidak seperti itu apakah itu namanya seorang sahabat? menurutku tidak. seorang sahabat dengan teman dekat memang maknanyanya hampir sama. Tapi...apa kamu tau bagaimana membedakan antara sahabat dan teman dekat? disini aku akan bercerita sedikit tentang sahabat.
(Lembaran baru, di pagi hari)
Pada pagi itu Ana sibuk dan kerepotan untuk bersiap-siap masuk sekolah. Kali ini, ia sangat bersemangat untuk masuk sekolah karena menurut dia hari ini adalah lembaran barunya.
"Baju...rapi. Rok...bersih. Sepatu...komplit!" serunya.
"Semangat banget kamu ka? hati-hati ya nanti berangkatnya. Ingat baca-baca doa ya kalo di jalan rawan soalnya daerah sana." ucap mamanya.
"Siap bos!" serunya kali ini dengan semangat.
"Ayok ka jalan ntar kesiangan lagi. Pulangnya jangan sampai salah naik angkot ya." ucap papanya.
"Naik apa deh? angkot yang warnannya putih kan pa? yang dari jalanan belokan itu kan? siap deh ntar tinggal tanya-tanya orang aja." ucapnya dengan senyuman.
Sesampainya disekolah, Ia pun terpesona dengan gerbang sekolah yang berwarna hitam serta tinggi itu membuat kesan sekolah itu bagus dimatanya.
"Gawat pa! aku telat kan tuh udah rame di lapangan." ucap Ana dengan paniknya.
"Yaudah kesana gih...jangan-jangan udah mau upacara." ucap papa sekenanya.
Ana memasuki lorong-lorong sekolah itu, ia mengelilingi lantai dasar untuk mencari kelasnya. Ya Ana adalah murid baru disekolahnya, ia pindah karena ayahnya menyuruhnya. Tak lama kemudian ia menemukan kelasnya yang berada dilantai 3 gedung sekolah itu letaknya di pinggir pojok menghadap gedung-gedung besar yang berada di permata hijau.
"8.4?" (katanya dalam hati, melihat ke arah atas yang berisi nama kelas)
"Nah! akhirnya aku dapat." ucapnya.
Ia memasuki kelas itu dan ternyata kelas itu sangatlah ramai dan berdebu. Ana mencari-cari bangku kosong, sampai akhirnya ia mendapatkan bangku yang berada di depan pojok sebelah kiri dekat dengan pintu kelas. Ia segera duduk di bangku itu dan mengambil selembar kertas dari buku yang berada di dalam tas nya untuk membersihkan bangku itu.
'Yaampun mama belum apa-apa rok ku bisa-bisa sudah kotor ini.' keluhnynya dalam hati (melihat rok putih yang sudah sedikit kena debu)
Kemudian ada seorang permpuan masuk kelas dan sedang mencari bangku panggil saja dengan sebutan Ey. Dengan spontan Ana melambaikan tangannya menyuruh agar perempuan itu duduk disebelahnya, dan tanpa berfikir panjang perempuan itu langsung menghampiri Ana. Tak sempat mereka berkenalan bel pun sudah berbunyi tandanya murid-murid untuk ke lapangan melaksanakan upacara bendera. Setelah selesai upacara bendera mereka kembali masuk ke dalam kelas dan tanpa berbicara sedikitpun, sampai akhirnya Ana memulai pembicaraannya. Ternyata perempuan itu bertolak belakang dengan Ana yang memiliki sifat ramah, pemalu dan tidak terlalu banyak bicara. Sedangkan Ey adalah perempuan yang ceria, cuek, bawel, dan percaya diri. Sampai akhirnya kita berbicara banyak mereka baru mengetahui bahwa mereka sama-sama anak pindahan.
"Duh ini bangku sama meja kotor banget sih! jorok banget ga ada yang bersihin apa ya na?" seru Ey kesal.
"Iya nih Ey rok baru ku saja jadi kotor, ini pakai kertas ku saja" ucap Ana (memberi beberapa lembar kertas).
"Ga ah na percuma buang-buang kertas aja. Coba gue tanya sama orang belakang ah ini kelas punya lap apa ga?!" ucap Ey sekenanya.
"Tapi Ey kita kan belom kenalan? ga sopan dong?" ucap Ana menanggapi.
"Eh lo...ada lap ga sih?" ucap Ey pada teman di belakangnya.
"Ga ada. Lo minta aja gih sama anak belakang" kata anak cowo yang duduk di belakang mereka.
"Hmmm duh males banget kalo gitu gimana ya." keluh Ey.
"Eh lo anak baru!!! nyari lap?" seru perempuan yang berada dipojok belakang.
"Iya punya?" jawab Ey.
(perempuan itu melempar lap yang kotor dan jatuhlah di atas kepala Ana)
"Hahahahahaha kocak banget hahaha bagus bagus kena deh" seru anak-anak sekelas
"Na?" tanya Ey.
"Iseng banget sih Ey udah aku bilang kan pakai kertas aja, kamu sih ga kena aku yang kena Ey kotor." seru Ana kesal.
"Maafin na, gue gatau kalo kaya gitu jadinya, merekanya aja iseng na."jawab Ey.
Bel istirahat pun berbunyi. Ana dan Ey tidak tahu letak-letak dan ruangan yang ada di sekolah ini sampai akhirnya mereka bertanya-tanya kepada murid yang sudah lama bersekolah disini tentang dimana letak kantin.
Tidak lama kemudian bel masuk pun berbunyi.
Perempuan yang dibelakangpun kembali menjahili Ana. "Oy anak baru bagi minum dong!" pinta perempuan itu. Mau tak mau Ana pun mengasih tempat minumnya ke perempuan itu. Tidak beberapa lama kemudian..."Ini makasih ya" ucap perempuan itu dengan melempar tempat minum Ana ke arah bangkunya, dengan reflek Ana menangkapnya dan melihat air nya suda tidak ada, ternyata airnya benar-benar dihabiskan oleh perempuan itu. 'Sabar sabar hari pertama.' keluh Ana dalam hati.
Sesampainya dirumah Ana pun senang dengan hari pertamanya walaupun dikerjai oleh perempuan dibelakang itu yang sekarang sudah resmi menjadi ketua kelasnya yang bernama Fafa. Ia tidak menceritakan apapun kepada mamanya, walaupun mamanya tidak bertanya. Fafa adalah seorang perempuan yang memang terkenal di sekolah, dan ia terkenal suka menjahili murid baru serta berbuat sesukanya. Waktu berputar sangat cepat dimana pada waktu dulu Ana dan Ey hari-harinya selalu dikerjai dengan teman sekelasnya sampai akhirnya mereka menjadi bersahabat dengan Fafa dan kawan-kawan Fafa. Mereka kemana-mana bersama dan berbagi kisah cerita walau pun tidak semua masalah diceritakan, mereka terdiri dari 7 orang. Disinilah mulai adanya masalah duka dan ujian tentang kesetiaan sahabat.
"Na? gue mau main sama Ayu nih lo mau ikut ga?"ajak Ey.
"Ga ah Ey aku mau ngerjain pr dulu lain kali aja deh."tolak Ana.
"Na....ayook dong lo sekali-kali tuh harus ikut! jangan buku mulu buku mulu."pinta Ey.
"Ey kamu tau kan aku orangnya pemalu kalo belom deket sama orang lain."ucap Ana menjelaskan.
"Udah Na kali ini aja ya ikut please....."pinta Ey.
"Hai Ey jadi ga nih? ikut yuk na."ucap Ayu tiba-tiba dari belakang mereka.
"Eh yu jadi kok jadi itu mah hehehe tau nih si Ana katanya ga enak sama lo malu."ucap Ey kecewa.
"Yaampun Na cuek aja kali yuk ikut."sahut Ayu dengan senyuman.
"Tapi....yaudah deh kalo kalian maksa aku juga."seru Ana mengalah.
Ia berfikir tak ada salahnhya jika bermain sebentar refreshing toh ia jarang bermain dengan Ey bahkan bisa dibilang kalau jalan pasti tujuannya untuk mengerjakan pr. Sesampainya disebuah mall Ey dan Ayu pun mencari tempat foto box, ya mereka memang menyukai foto-foto. Berbeda dengan Ana yang jarang sekali foto, bisa dibilang Ana termasuk anak yang masih lugu dikalangan anak smp.
"Yukkk Na kita foto" ajak Ey.
"Ga ah Ey kamu aja gih sama Ayu"ucap Ana.
"Bisa ga sih jangan nolak mulu Na?" ucap Ey dengan nada sedikit kecewa.
"Iya deh iya" ucap Ana dengan pasrah.
berawal dari situlah mereka bertiga menjadi amat sangat dekat bahkan bisa dibilang sebagai sahabat, karena mereka sama-sama saling jujur dan membuat Ana menjadi tidak terlalu pemalu serta membuat Ana tidak terlalu kaku seperti biasanya. Pada suatu ketika Fafa memarahi Ey abis-abisan hingga membuat Ey kesal dan tak bisa menahan amarahnya. Entah apa yang difikirkan Fafa hingga memarahi Ey dengan kasar dan mengeluarkan kata-kata kotor. 'Fafa itu siapa? sahabatkah? apa ini yang dibilang dengan sahabat?' Tanya Ey dalam hati. Ana tidak tahu apa-apa tetapi sejak tadi pagi muka Ey menunjukan seperti penuh beban walaupun Ey berusaha menutupinya, Ana pun tak mengerti apa yang terjadi kepada dua sahabat nya yang akhir-akhir ini memang tak saling sapa dan berjauhan.
"Ey kamu kenapa?"tanya Ana.
"Na....." (memeluk Ana seraya menangis)
"Ey...loh loh Ey??? aku bingung. Yaudah kamu tenangin diri kamu dulu ya nanti cerita deh"ucap Ana menenangi Ey.
"Gue kesal na kesel sama Fafa kesel.....kenapa sih? siapa sih dia? Dia kaya anak kecil banget na! dia nganggep gue sebagai sahabatnya atau apasih? Asal lo tau ya na kita ga boleh main sama Ayu na! gila ga sih? emang dia siapa sih na? nyokap gue aja ga ngelarang-larang gue na. Dan lo na lo....lo dijelek-jelekin sama dia na gue kemarin denger dan gue marah besar sama dia na. Kita tuh bukan sahabatnya na! kita cuma dimanfaatin sama dia na." ucap Ey dengan kesal dan menangis.
"Ey...jangan gitu ah. Kita semua kan sahabat mungkin cuma salah faham gimana kalo diselesaiin baik-baik? jangan ngomong gitu ah Ey."ucap Ana dengan santai.
Beberapa hari pun terlewat mereka tidak sama sekali bermain dengan Ayu ataupun dengan Fafa karena mereka memilih untuk tidak memperkeruh masalah. Ana pun bingung dengan apa yang terjadi sebenernya sampai pada akhirnya Ana lelah dan jenuh melihat kedua sahabatnya seperti ini Ana pun menghampiri Fafa "Fa aku mau bicara minta waktu kamu sebentar ya."ucap Ana dengan sopan.
"Mau ngomong apaan na?"ucap Fafa dengan santai.
"Fa kamu kenapa jadi jauh sih sama Ey? aku ga suka loh sahabatku jauh-jauhan gitu kalau ada masalah diselesaikan baik-baik dong fa."ucap Ana berterus terang.
"Apaansi na lo mau jadi pahlawan kesiangan? terus.....tunggu siapa bilang lo sahabat gue? denger ya na gue tau banget lo berdua main sama gue cuma mau cari eksis kan?"sahut Fafa dengan ketus.
"Yaampun fa kok kamu bisa berfikir gitu sih? ga fa ga sama sekali."ucap Ana dengan mata berkaca-kaca.
"Jangan muna deh ya na gue tau lo main sama Ayu tuh ngegosipin gue dibelakang ketawa-tawa dan lo bangga?"seru Fafa dengan kesal.
"Yaampun fikiran kamu jahat banget sih fa! aku ga ada niat sedikitpun kaya gitu. Siapa sih orang yang bisa bikin kamu mikir gitu?"seru Ana sedikit kecewa, padangannya pun lurus kedepan entah harus berbicara apa lagi dengan Fafa.
"Bukan urusan lo na dan gue temenan sama lo cuma mau minta dikerjain pr doang kok gue jujur! Jangan berharap lebih ya cewe sok lugu!"bentak Fafa dan meninggalkan Ana sendiri.
Ana pun memikirkan semua yang dikatakan oleh Fafa. Ia semakin bingung dengan semuanya menurutnya ini adalah masalah kesalah pahaman belaka yang tak ada ujungnya. Ia kecewa dengan perkataan Fafa, 'kalau bersahabat hanya untuk memanfaatkan saja apa itu yang namanya sahabat?' fikir Ana dalam hati.
"Na? kok mukanya murung?"sapa teman sekelasnya bernama Binbin.
"Eh bin ga kok, cuma kecapaian aja nih" sahut Ana sekenanya.
Ana pun menutupi semua permasalahannya dari Ey ia tidak mau Ey khawatir ataupun tambah marah dengan Fafa, ia terpaksa berpura-pura seperti tidak ada masalah. Ia pun ingin mencari tahu asal mula mengapa Fafa bisa berbicara sejahat itu. Sekali-kali Ana melihat dengan siapa Fafa bermain dan berbicara, ia berfikir pasti Fafa dipengaruhi oleh seseorang. Sampai akhirnya Ana ketahuan oleh Binbin ketika sedang mengintili Fafa di kantin.
"Eh na...ngapain lo ngintip-ngintip?"ucap Binbin.
"Eh bin hmmm anu cuma liat-liat doang hehehe eh gue duluan ya"seru Ana yang terkejut dan meninggalkan Binbin secepat mungkin.
Seiring berjalannya waktu setahun sudah Ana dan Ey bersahabat ditambah dengan Ayu serta Binbin ya kini mereka bersahabat setelah kenaikan kelas dan berpisah kelas dengan Fafa mereka semakin lengket karena tidak ada yang melarang mereka untuk bermain bersama. Sebenernya sejak kejadian Fafa memarahi Ey, Ana dan Ey pun jarang bermain dengan Fafa bahkan berbicara dengan Fafa. Mereka lebih sering menghabiskan waktu dengan Ayu dan Binbin yang tanpa di sadari menjadi sahabat. Dan usaha Ana untuk mencari tahu tentang permasalahan Ey dan Fafa pun sia-sia. Ana pun tak ingin mencari-cari tahu lebih lanjut lagi karena menurutnya Ey sudah cukup bahagia sekarang.
Sampai suatu ketika keluarga Ayu dan Ey menghadapi masalah. Ya masalah yang berat...yang membuat mereka berdua disekolah menjadi sedikit pendiam dan lebih mudah sensitif. Entah bagaimana ceritanya mereka berempat selalu menceritakan semua masalahnya dari yang terkecil sampai yang terbesar tanpa terkecuali.
"Kalian sedih ga kalo orang tua bangkrut?" tanya Ey.
Reflek semua terkejut "Ey? maksutnya?" ucap ketiga sahabatnya serentak.
"Iya...kalo udah miskin ada yang mau nemenin ga sih?" ucap Ey.
"Ih Ey...kamu ngomong apa sih...emangnya kamu kenapa? cerita dong Ey jangan setengah-setengah" ucap Ana.
"Iya Ey..jujur gue temenan ga liat duit-duitan kok Ey. Walaupun ga munafik ya mau punya temen orang tajir tapi ga musti ah gue terima apa adanya kok" sahut Ayu.
"Iya Ey. Jangan khawatir ya kita selalu ada buat lo apapun yang terjadi." tambah Binbin.
"Lo ngomong gitu karena lo belom lihat nanti gue miskin gimana. Lo belom lihat rumah gue kecil gimana, lo juga belom lihat kalo gue udah ga bisa ke mall bareng kalian." ucap Ey dengan kesal dan mulai menangis.
"Ey! kamu tuh ngomongnya....emang kamu mau miskin apa? tenang kok Ey kita sayang dan terima kamu apa adanya." sahut Ana menengankan diri Ey.
"Na....aaaa lo emang the best banget! gue...keluarga gue...hancur na hancur yu hancur bin! habis habis semuanya....bokap gue kelilit utang rumah gue diambil beserta isi-isinya dan rumah gue yang kedua kebakaran lo tau kan rumah gue abis kebakaran minggu kemarin. Dan....sekarang gue? tinggal dideket kolong jembatan, bokap gue belom dapet pinjeman serta rumah yang layak dipakai dan murah. Apa kalian masih mau deket-deket gue? gue udah miskin, bau, ga punya tempat tinggal, mimpi gue terputus semuanya" ucap Ey dengan isak tangis yang menjadi.
*Tertegun sebentar dan menghampiri serta memeluk ey*
"We always beside you Ey! We never ever leave you alone!" ucap ketiga sahabatnya serentak.
"Inget ya Ey kita sahabatan bukan untuk seneng-seneng dan foya-foya belaka."ucap Binbin
"Makasih semuanya kalian baik banget sama gue." ucap Ey dengan terharu.
Tidak beberapa lama kemudia ponsel Ayu pun berdering orang rumahnya menelpon dan menyuruhnya segera pulang. Ayu pun pulang dan ketika sampai dirumah Ayu pun terkejut dengan rumahnya yang berantakan.
"Ma....apa-apaan sih ini? kenapa berantakan gini" ucap Ayu dengan nada kesal.
"Papa kamu yu papa kamu mabuk-mabukan lagi dan ia mengambil perhiasan mu yu perhiasan mu!" tangis mamanya.
"Apa? Jahat!!!!!! papa benar-benar jahat. Perhiasan itu kan Ayu yang beli ma itu buat Ayu lanjut sma ma." sahut Ayu dengan isak tangis yang kejar.
"Ayu maafin mama yu mama udah mencoba mengambil perhiasan kamu tapi papa kamu benar-benar...."sahut mamanya dengan memeluk Ayu.
Ayu membalas memeluk mamanya dan melihat mamanya yang amat sangat disayanginya, fikiran Ayu pun kemana-mana ia sangat menyayangi kedua orang tuanya apapun yang terjadi. Ayu hanya ingin keluarganya selalu bersama-sama dan tidak seperti ini, ia rindu akan ayahnya yang seperti dulu.
"Udah ma udah gapapa Ayu ikhlas kok ikhlas asal mama ga dipukul sama papa, mama jangan nangis dan terlalu memikirkan perhiasan Ayu ya ma kalau ada rezeki bisa dibeli lagi ma." ucap Ayu berusaha menenangkan mamanya.
Ketika disekolah pun Ayu tetap berusaha seperti tidak apa-apa tetap tersenyum bahkan bercanda dengan teman-temannya. Ayu tidak ingin melihat teman-temannya khawatir dengan dirinya, Ayu pun tidak mau membuat teman-temannya sedih, cukup permasalahan Ey saja yang membuat semua sedih fikirnya. Namun usaha Ayu pun sia-sia ketika Ayu melihat ayahnya mabuk-mabukan di siang hari di dekat sekolahnya. Ia pun berlari menghampiri papanya tanpa rasa malu.
"Papa? papa ngapain disini?" tanya Ayu dengan nada kaget.
"Yu hehe nih mau ga minumannya? enak loh"ucap papanya dengan nada yang pelo.
"Pa kenapa papa harus begini sih?"tanya Ayu dengan serius.
"Hehehe kamu tuh ga ngerti apa-apa yu berhubung papa memakai perhiasanmu untuk membeli minuman ini hehehe jadi papa nawarin kamu deh. Mau ga?"ucap papanya menggoda.
"Pa yang benar saja masa aku meminum itu? pa Ayu kangen sama papa yang dulu." ucap Ayu, air matanya pun tak dapat ditahankan keluar begitu saja. Ya papa Ayu sudah hampir 4bulan terakhir menjadi suka mabuk-mabukan karena stress mengetahui bahwa ternyata Ayu mengedap penyakit Kanker otak yang Ayu dan mamanya pun tidak mengetahuinya, berhubung papanya baru saja di PHK papanya pun frustasi dan stres tidak siap menghadapi semua itu.
"Yu jaga kesehatan baik-baik ya hehehe papa mau pergi dulu. Lu ga usah pake nangis-nangis segala."ucap papa Ayu seenaknya.
ketiga sahabatnya pun heran dan menghampiri Ayu, yang pada akhirnya terpaksa Ayu menceritakan dan menjelaskan semua masalah yang terjadi kemarin. Mereka bertiga tidak memandang Ayu sebagai anak nakal, mereka tidak takut akan berteman dengan Ayu, mereka menyayangi Ayu. Ya mereka semua memang selalu seperti itu apapun yang terjadi dan masalah sesulit apapun tidak membuat mereka retak, mereka selalu menjujung prinsip kejujuran adalah kunci utamanya jika ada salah satu dari mereka melakukan kesalahan ataupun membuat salah satu dari mereka menjadi tidak enak atau risih mereka selalu membicarakannya dengan baik-baik.
Masalah demi masalah pun dilewati mereka bersama. Apapun yang terjadi mereka pun tetap bersatu walau mereka sekarang sudah saling mengetahui kekurangan masing-masing tetapi mereka tetap bersahabat dengan apa adanya sampai suatu ketika......
Keluarga Binbin sudah lama bercerai Binbin mengikuti ayahnya karena ibunya tak sanggup membiayai Binbin dan mengurus Binbin. Sampai akhirnya Binbin terkejut ketika mengetahui ibunya menikah dengan ayah teman sekelasnya sendiri yaitu Fafa. Ya ibu Binbin menikah dengan ayah Fafa dan disinilah semua bermula.....berawal dari Binbin yang tidak menyukai ayah Fafa menikah dengan ibunya, ia pun mendekati Fafa dan mengadu domba cerita antara persahabatan Fafa dan kawan-kawannya. Ia mengada-ngada bahwa Ayu menghasut Ey dan Ana untuk menjelek-jeleki Fafa, ia juga yang meprokatorkan Ey agar tidak pernah menyapa Fafa lagi semua ia lakukan semata-mata berbalas dendam pada ayahnya Fafa namun semuanya salah. Yang ada sekarang Fafa tahu semuanya dan Fafa baru mengetahui bahwa ibu tirinya adalah ibunya Binbin sampai akhirnya Fafa menceritakan semuanya kepada Ayu, Ey, dan Ana di depan Binbin. Wajah Binbin pun langsung putih pucat dan merasa malu.
"Yu, Ey, Na.....maaf maaf maaf banget maafin gue....gue ga bermaksud. Cara gue salah emang salah banget. Tapi, gue sekarang deket sama kalian bukan karena ada niatan bales dendam lagi kok, gue udah terima semuanya dengan ikhlas. Itu dulu gue hanya belum terima kalau orang tua gue harus pisah sedangkan kalian? Ana anak papi yang suka diantar jemput. Ayu anak kesayangan mamanya. Ey anak semata wayang yang apa-apa selalu dituruti. Gue ngiri sama kalian.....gue jahat iya gue jahat. Gue salah ga ngomong dari dulu sama kalian. Maaf....gue mohon, gapapa kok lo gamau berteman lagi sama gue asal mau maafin aja." ucap Binbin dengan terisak-isak.
"Bin.....gapapa kok aku seneng kamu jujur walaupun Fafa duluan yang cerita tapi seengganya kamu ga ngelak dan ngaku kalau itu semua perbuatan kamu," ucap Ana seraya mengelus bahu Binbin.
"Na lo terlalu baik....maafin gue na maafin gue yang pernah nyuruh anak-anak untuk minta dikerjain pr nya sama lo, karena waktu dulu gue berfikiran lo adalah anak yang sok baik. Tapi ternyata ga na lo emang beneran baik" isak Binbin.
"Kita semua sahabat kan? bisa saling memaafkan dan bersatu lagi kan?" ucap Ayu dan Ey serentak.
"Walaupun lo udah ngerusak nama jelek gue karena lo bilang gue adalah anak preman pindahan. Tapi gue maafin lo dan tetep jadi sahabat lo." seru Ey.
"Jangan di ulangin lagi ya bin...cukup pertama dan terakhir, karena cara kaya gitu tuh ga membuahkan hasil dan sia-sia."tambah Ayu.
"Iya..iya! janji! Love you my best" seru Binbin seraya memeluk ketiga sahabatnya.
Fafa pun tersenyum lega melihat semuanya yang sudah membaik, walaupun memang pada dasarnya Fafa berteman dengan Ana hanya untuk memanfaatkannya. Tetapi, sekarang Fafa berniat untuk menjadi orang yang lebih baik lagi sampai akhirnya Fafa menceritakan semua yang terjadi pada Ey, Ayu, dan Ana. Dan pada akhirnya mereka tetap bersahabat. Jelas kan sekarang bisa bedain mana yang namanya sahabat? dan teman dekat? ingat sahabat itu yang bisa menerima apa adanya dan mengkritik atau berkata jujur satu sama lain untuk kebaikan bersama.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar